Opini  

Menyeimbangkan Antara Kuliah, Organisasi dan Kepentingan Pribadi

Kuninganglobal — Kuliah dan Organisasi sejatinya adalah dua hal yang berbeda, tetapi sangat mustahil dipisahkan dari kehidupan mahasiswa. Kuliah dan Organisasi merupakan sarana untuk mengasah Hard Skill maupun Soft Skill yang sesuai dengan minat bakat mahasiswa itu sendiri. Banyak sekali organisasi yang bisa diikuti oleh mahasiswa, mulai dari adanya Forum Diskusi, Kegiatan Kesenian, Kewirausahaan, Jurnalistik dan banyak lagi yang lainnya.

Umumnya, banyak sekali mahasiswa yang datang ke kampus hanya untuk sekedar mengikuti kuliah, duduk manis di kelas, mengobrol dengan teman-temannya lalu pulang. Hal itu terjadi berulang-ulang setiap harinya, hal ini tentu sangat monoton sekali. Memang pada hakikatnya tujuan awal seorang mahasiswa masuk ke universitas adalah untuk belajar sesuai dengan disiplin ilmu yang ingin ditekuninya tetapi jika yang terjadi hanyalah kuliah pulang kuliah pulang saja setiap harinya, maka mahasiswa itu sendiri tidak akan mendapatkan ilmu yang tidak bisa dipelajarinya di bangku perkuliahan.

Dalam pandangan masyarakat mahasiswa dianggap sebagai strata sosial yang paling unggul karena tidak semua lulusan SLTA mampu menjejaki perguruan tinggi. Model pembelajaran untuk mahasiswa dapat kita namakan dengan Andragogi atau cara belajar orang dewasa, dimana kontribusi Dosen hanya sebagai pengarah saja dan mahasiswa harus mampu belajar mandiri.

Mahasiswa adalah aset penting dalam perkembangan suatu negara, para lulusan perguruan tinggi tersebut akan bekerja di setiap lapisan masyarakat, baik itu Birokrat ataupun Teknokrat. Untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan apa yang diinginkan mahasiswa, maka mahasiswa tersebut haruslah memiliki Hard Skill dan Soft Skill. Kedua elemen itu sangat berpengaruh terhadap nasib mahasiswa ke depannya.

Jika Hard skill berhubungan dengan pembelajaran dalam ruang kelas, praktik laboratorium, presentasi, dan dirumuskan menjadi Indeks Prestasi atau yang lebih dikenal dengan IP. Memang Hard skill adalah subjek utama dalam keberhasilan mendapatkan pekerjaan, tetapi hal demikian tidaklah cukup. Hard Skill haruslah diimbangi dengan komplemen pendukung yang dikenal dengan Soft Skill.

Soft Skill berkaitan dengan keterampilan yang dimiliki oleh seorang mahasiswa dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial atau lebih dikenal dengan Interpersonal Skill dan juga kemampuan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri, dikenal dengan Intrapersonal Skill. Soft Skill adalah hal yang tidak bisa didapatkan oleh mahasiswa dibangku perkuliahan, tetapi Soft Skill tersebut diasah melalui organisasi.

Baca Juga:  Tugas Guru Bukan Sekedar Mengajar

Organisasi adalah hal yang krusial dan mengambil kedudukan yang penting bagi mahasiswa, tetapi kesadaran mahasiswa itu sendiri untuk mau mengikuti kegiatan berorganisasi sangatlah rendah sekali. Mereka belum menyadari apa manfaat yang akan mereka peroleh nanti setelah mengikuti organisasi.

Menurut Max weber organisasi ialah suatu kerangka terstruktur yang di dalamnya berisikan wewenang, tanggung jawab dan pembagian kerja untuk menjalankan masing-masing fungsi tertentu. Menyeimbangkan antara kulih, organisasi dan kepentingan pribadi yang dimaksud disini adalah bagaimana kita mampu mengatur ketiga hal tersebut agar mereka mampu berjalan beriringan dan tidak saling menganggu satu sama lainnya.

Kuliah sebagai kewajiban utama harus berjalan dengan lancar dan tidak terganggu dan begitu juga sebaliknya, Organisasi sebagai sarana dalam usaha untuk mengembangkan diri untuk memperoleh Soft Skill hendaknya dapat diberi ruang agar dia mampu untuk mendukung kewajiban utama. Sedangkan, kepentingan pribadi dapat merusak moralitas, rassa solidaritas, munculnya rasa egois, kurangnya rasa persatuan dan kesatuan. Oleh karena itu, kita harus mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi.

Ada beberapa faktor yang menjadi alasan mahasiswa tidak ikut andil dalam kegiatan organisasi, salah satunya yaitu kesulitan dalam memanajemen waktu dan minimnya minat mahasiswa dalam berorganisasi. Dua faktor tersebut menjadi penghambat yang sangat berpotensi terhadap mahasiswa. Dalam berorganisasi, mahasiswa dituntut harus mampu mengatur waktu antara jadwal kuliah dengan kegiatan diluar jadwal kuliah. Sayangnya, masih banyak mahasiswa yang belum mampu mengatur waktunya dan seringkali salah satu dari kegiatan tersebut menjadi keteteran.

Jika hal tersebut sudah terjadi, maka mahasiswa terpaksa harus mengorbankan salah satunya, jika bukan kuliah yang menjadi korban maka organisasilah yang harus bubar jalan. Sebenarnya kuliah dan organisasi dapat berjalan dengan lancar jika saja mahasiswa tersebut mampu untuk mengatur waktu.

Baca Juga:  Teknologi Dalam Evaluasi Pengembangan Diri

Disini kita memerlukan manajemen waktu yang baik agar tidak mengganggu bangku perkuliahan, manajemen secara etimologi berasal dari bahasa italia yaitu maneggiare yang artinya mengendalikan. Berdasarkan bahasa inggris yaitu management yang artinya mengelola. Secara terminology, manajemen adalah suatu proses atau kegiatan/usaha pencapaian tujuan tertentu melalui kerjasama.

Faktor lain yang sangat berpengaruh, yaitu minimnya minat mahasiswa dalam berorganisasi. Setelah saya melakukan survey di dalam sebuah himpunan di Perguruan Tinggi ada beberapa mahasiswa yang mengikuti organisasi hanya karena mereka ikut-ikutan dan di ajak oleh temannya sehingga ketika di dalam organisasi mahasiswa tersebut hanya numpang nama saja, selebihnya mereka mementingkan kepentingan pribadinya.

Apa itu kepentingan pribadi? Banyak mahasiswa yang lebih memilih kepentigan pribadi, contohnya seperti mereka lebih memilih nongkrong dan bermain bersama temannya dan alasan lainnya yang tidak rasional. Sehingga, banyak mahasiswa yang hanya ikut-ikutan masuk ke dalam organisasi tapi tidak mau berproses.

Memang nongkrong dan bermain bersama teman adalah hal yang menyenangkan, bisa berkumpul dan bersenda gurau, tetapi kembali lagi pada hal yang telah dijelaskan diatas bahwa jika mahasiswa datang ke kampus hanya untuk sekedar belajar dan duduk manis dikelas saja maka mahasiswa tersebut tidak akan memperoleh sesuatu yang tidak didapatnya dibangku perkuliahan saja.

Banyak dari mahasiswa yang memilih untuk tidak berorganisasi dan lebih memilih kepentingan pribadinya saja. Dan ketika ditanya kenapa? mereka hanya menjawab dengan alasan yang tidak masuk akal dan tidak rasional. Tetapi, banyak dari mahasiswa yang rela mengorbankan waktunya hanya untuk mengikuti kegiatan organisasi, tetapi pada waktu-waktu tertentu mereka juga bisa nongkrong dan bersenda gurau sambil menikmati secangkir kopi hangat dan menikmati perpaduan dari nikotin yang ada disetiap batang rokok yang dihisap tanpa mengorbankan waktu berorganisasi, mereka mampu menyeimbangkan semuanya. Kuncinya adalah bagaimana kepiawaian kita sebagai mahasiswa dalam mengatur waktu.

Baca Juga:  Berproses Saja Dulu, Hasil Tidak Akan Mengkhianti Proses

Menurut Adam Malik dalam buku Dikader di Dalam Orgaisasi yang Sakit “Hati setiap pemuda mengenal keingian dan keputusasaan, yang tak dapat diajuk hanya dengan ukuran-ukuran rasional. Di lain pihak pemuda selalu dibakar oleh cita-cita dan idealisme yang tinggi-tinggi. Mereka lincah, sigap dan suka meledak karena penuh vitalitas. Mereka tenggelam dalam semangat ‘tak mengenal mati’, dan untuk membuktikan semangat itu mereka mempunyai kecenderungan untuk melakukan tindakan-tindakan yang ekstern.”

“Hidup itu suatu perjalanan, tergantung bagaimana kita menghadapinya. Kita hanya bisa mengikuti arus atau mengejar mimpi-mimpi kita.” (Paulo Coelhoe)

Penulis : Dudi Irawan, Pengurus HIMA PGSD STKIP Muhammadiyah Kuningan. Aktif juga di HMI Cabang Kuningan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *