Memikat Hati Peserta Didik

Kuningan, Walapatra.com — Menjadi seorang pendidik tidak semudah dikatakan. Kriteria ideal seorang pendidik merupakan sebuah prasyarat bagi individu yang memilih profesi sebagai pendidik. Kegagalan menjadi seorang pendidik yang mumpuni tidak didasarkan pada rendahnya pengetahuan pendidik dalam penguasaan materi ajar semata. Namun, masalah yang jauh lebih penting adalah rendahnya kemampuan dalam menciptakan suasana kelas yang menarik sehingga dapat dirasakan efek positifnya oleh peserta didik.

Seorang guru maupun dosen merupakan model bagi para siswa dan mahasiswanya. Tindak tutur, penampilan muka, corak pakaian dan sikap responsif terhadap kelas merupakan bagian penting yang harus diperhatikan seorang guru maupun dosen. Tidak menarik di depan kelas adalah situasi yang sangat menyakitkan. Betapa tidak, seorang guru berapi-api menyampaikan materi ajarnya, menggunakan media yang serba canggih, namun kelas tetap saja tidak merespon positif terhadap performanya tersebut.

Kepiawaian seseorang dalam mengajar adalah kemampuan berkomunikasi. Kemampuan komunikasi ini sangat penting. Berkomunikasi berarti menyampaikan sebuah pesan yang diharapkan dapat direspon sesuai harapan. Komunikasi seorang guru/dosen adalah semua penampilan dan tindakan yang ia berikan kepada kelas. Berikut strategi memikat hati kelas, diantaranya;

Berpakaian menarik

Seorang guru/dosen harus senantiasa memerhatikan corak pakaian yang tepat sesuai profesi dirinya. Paduan warna yang menarik antara atasan dan bawahan, sepatu yang bersih dan sopan, perhiasan yang elegan layak seorang terdidik, merupakan perhatian utama agar memberikan kesan menarik tapi sopan. Pakaian yang dikenakan mengindikasikan kepribadian pendidik dan memberikan pancaran kharismatik di depan kelas. Kesan berpakaian elegan bukan bermakna mewah dan berlebihan, namun sifat akademis dan wawasan luas harus diwakili dengan pakaian tersebut. Inilah langkah awal kelas diajak berkomunikasi dengan pakaian kita.

Baca Juga:  Disarsipus Kuningan Bekerjasama Dengan Duta Baca Kuningan Gelar Pemilihan Duta Baca Anak dan Pelajar

Pilihan Kata

Kegagalan dalam menciptakan dinamisasi di kelas adalah ketidakcermatan memilih kata-kata. Guru maupun dosen sering terlena bahkan tidak menyadari bahwa ‘kata’ yang disampaikan memiliki energi luar biasa untuk mengubah cara pandang kelas terhadap diri guru/dosen maupun cara pandang kelas terhadap materi ajar yang diberikan. Bila sebuah buku yang ditulis penulis terkenal dapat mengubah cara pandang pembaca dalam merubah kehidupannya, maka sesungguhnya kekuatan buku tersebut terletak pada kekuatan makna dalam setiap bab nya, kekuatan bab itu didukung oleh kekuatan makna dalam setiap paragraf, kekuatan paragraf akan didukung oleh kekuatan kalimat, kekuatan kalimat akan didukung oleh kekuatan makna frase, dan kekuatan makna frase itu sendiri bersumber dari kata yang dipilih, dipadukan sehingga menghasilkan harmonisasi konotasi dalam konteks pemahaman publik yang anggun.

Jika guru/ dosen senantiasa memerhatikan kata yang akan diungkapkan kepada kelas maka respon positif akan kita dapatkan. Tujuan utama pengajaran dan pembelajaran adalah pemahaman kata yang terinternalisasi menuju pembentukan sikap yang lebih baik. Mempertimbangkan profesi diri sebagai guru/dosen, menyadari keberadaannya di lingkungan pendidikan, dan memahami materi akademik yang disampaikannya merupakan pendorong kita untuk menemukan kata yang diungkapkan dalam bahasa ucap sesuai dengan tujuan akademis kita.

Guru/dosen sering terjebak dengan bahasa yang kurang tepat sehingga berdampak pada turunnya derajat sebagai kaum terdidik. Kekuatan komunikasi kedua adalah ada pada kecermatan kita dalam memilih kata. Kata yang akan membentuk bahasa adalah ibarat pembungkus luar yang akan memengaruhi pandangan publik, menarik atau tidak untuk memiliki dan meyakini ungkapan tersebut. Berbahasalah sesuai dengan kebutuhan dan penuh kecermatan.

Menjadi Pendengar Setia  

Seorang yang cakap berkomunikasi berawal dari kecermatan dia memahami bahasa orang lain. Menjadi pendengar setia adalah sikap yang semestinya dimiliki oleh guru/dosen ketika berhadapan dengan kelas. Kekuatan bahasa yang kita ungkapkan di kelas akan muncul manakala kita siap menjadi pendengar setia terhadap segenap dinamika kelas yang sedang dihadapi. Berbicara kontekstual, nyata, sesuai dengan kondisi, merupakan strategi jitu untuk memikat kelas menuju gerbang pemahaman materi ajar yang sedang diarahkan. Kecenderungan untuk berbicara banyak di kelas adalah sifat umum bagi siapapun yang mendapatkan kesempatan berada di depan kelas. Namun sebaliknya, pembicara yang didengar dan diperhatikan secara menyeluruh dari rangkaian jam pelajaran awal hingga berakhirnya sangatlah sedikit. Memosisikan kelas sebagai sebuah tempat penampungan dimana kita bisa mengisi dan membuang semua teori-teori dalam pengajaran adalah kegagalan bagi seorang guru/dosen. Sesederhana apapun wawasan yang dimiliki kelas, semestinya kita menjadikan mereka patner dalam acara menarik tersebut.

Baca Juga:  Berkurban, Bukti Kecerdasan Siti Hajar

Kesuksesan seorang guru maupun dosen dalam mengajar adalah kemampuan berkomunikasi. Berkomunikasi berarti seperangkat penampilan fisik maupun nonfisik yang kita curahkan di depan kelas. Dengan diawali oleh prinsip “hobi” maka mengajar akan terasa menarik dan nyaman untuk dilalui. Tidak karena alasan gaji, jabatan, maupun sekadar mengisi waktu luang. Jika alasan terakhir yang kita miliki maka lebih baik kita memilih jalan lain selain mengajar daripada kita menjerumuskan peserta didik kita ke dalam pandangan hidup yang tidak tepat karena teori-teori yang kita sampaikan tidak sepenuh hati kita pahami. (*;)

Penulis: Nanan Abdul Manan (Ketua STKIP Muhammadiyah Kuningan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *