Sharing Life

Sharing Life

Sharing Life’ 75 Ribu Rupiah

Karya : Dina Alfitri

Cahaya yang semakin muram dan kabur entah kemana. Diriku terbaring di sebuah jalan yang panjang dekat kaki lima. Penglihatanku remang-remang bahkan bumi ini sampai berputar tak terhentinya. Sesak di dada semakin menjadi-jadi, terasa tercekik perlahan demi perlahan. “Astaga” aku baru saja mengingatnya, mengingat sebelum semua ini terjadi. Sebut diriku ‘Zao’, nama terkenalku. Nama asliku adalah Reza Tarmin pria dari Kota Tuban.

Hari itu pada bulan Juni, aku di pecat oleh perusahaan entertainment. Alasan aku dipecat, karena karirku semakin hari semakin redup. Aku hanya di bayar setengah dari penghasilan biasaku. Dan bayaran terakhirku, hanya seperempatnya dari biasanya. Aku jatuh miskin yang biasanya apa yang aku mau selalu ada. Tetapi karena kejadian ini aku menjadi gelandangan, tak punya rumah. Aku memang seorang yatim piatu sedari kecil. Aku dirawat oleh nenekku yang sudah tiada saat aku menginjak bangku sekolah kelas 2 SMA. Awal Karirku mengapa aku menginjak dunia entertainment, karena kecintaanku terhadap musik.

Malam hari yang gemerlap nan langit diisi cahaya oleh intang dan bulan, aku berjalan menyusuri salah satu jalan utama Kota Jogjakarta yang ramai disinggahi oleh para wisatawan domestik maupun luar negeri. Berjalan sambil merenungi apa saja yang telah kulakukan selama ini hingga diiriku dipecat. Padahal aku sudah bekerja disana selama kurang lebih lima tahun. Saat ku berjalan aku melihat wajah salah satu actor terkenal di kota ini di sebuah majalah yang dijual oleh pedagang kaki lima. “Kaya, tampan, badan bentuknya bagus, dan jago dalam aktingnya. Banyak fansnya juga apalagi cewe-cewe sudah banyak menggilai dia.”, Kataku di dalam hati. Aku lanjut berjalan untuk mencari sebuah penginapan sementara. Di ujung jalan utama ada sebuah hotel yang katanya terbilang murah, tetapi saat kulihat sisa uangku hanya 75 ribu rupiah. Tadi aku sempat membayar uangku kepada depkolektor yang menagih hutang dan tadi siang aku makan di sebuah kedai. Harapanku untuk tinggal sementara lenyap, entah dimana aku akan tinggal malam ini.

Berfikir, harus kemana aku pergi? Hanya untuk tidur saja malam ini, aku lelah sekali. Betul- betul hari ini adalah hari yang panjang, emosiku, fikiranku, tenagaku sangat terkuras. Harus putar otak supaya aku tetap bertahan hidup. Saatku melihat papan pengumuman, aku melihat ada salah satu poster yang membuat perhatianku kepada kertas kecil itu. Isi poster itu adalah sewa tempat tinggal yang judulnya “Berbagi Kehidupan”, yang harganya hanya 75 ribu rupiah perbulannya, wow ini murah banget, dan mungkin aku bakalan tinggal selamanya disini. Siapa coba yang mau menyewakan rumahnya hanya dengan 75 ribu rupiah dengan Cuma-Cuma, karena ini katanya beserta isinya bisa kita dapatkan. Tetapi sepertinya bukan aku saja yang tinggal disana, pasti ada

 

beberapa orang yang juga tinggal disana. Di poster itu terdapat alamat dan nomor handphonenya, Karena handphoneku sudah kujual untuk bayar hutangku, aku langsung mengunjungi alamat yang tertera pada poster tersebut. Rumahnya tidak begitu jauh di jalan utama, hanya saja agak terpencil dari kota, tetapi tidak apalah hanya untuk menginap sementara saja sembari mencari pekerjaan yang baru dan mengumpulkan uang untuk menyewa apartemen yang baru. Hmm… bukan-bukan, tapi membeli rumah yang bagus, karena aku akan tinggal di rumah itu sampai aku sukses kembali seperti sedia kala. Mumpung rumah ini disewa murah sekali.

Saat aku sampai di depan rumah “Berbagi Kehidupan” itu, aku segera beranjak menekan bel rumah itu. Selang kemudian pintu rumah itu terbuka oleh seorang laki-laki tinngi dan besar. Orang itu tersenyum padaku sambil menanyakan

“Ya, ada apa wahai pria?” katanya sambil batuk-batuk.

 

“Aku melihat poster ini di papan pengumuman dijalan utama kota. Apakah benar ini alamatnya?” jawabku sembari memperlihatkan posternya.

Lelaki itu mngambil poster dari tanganku dan membacanya. Kuruwukkk…kuruwukkk… suara dari perutku berbunyi karena sudah waktunya makan malam.

“Kamu lapar ya? Mari sini masuk, saya punya banyak makanan yang enak di dalam” kata lelaki itu. “Hehe iya saya lapar. Sudah waktunya makan malam.” Jawabku sambil tersenyum.

“Yasudah mari masuk dan kamu tinggal saja disini semau kamu. Anggap saja ini adalah rumahmu.” Kata lelaki itu.

“Oke, terimakasih sebelumnya. Dan aku harus panggil apa kepada dirimu?” kataku.

 

“Oh iya betul belum kenalan ya? Panggil saja Bang Gondrong, karena rambut saya gondrong, kebanyakan orang manggil saya gitu.” Kata lelaki itu.

“Panggil saja saya Zao bang, itu nama panggilanku sehari-hari.” Ucapku memberitahu kepadanya.

 

Aku mulai makan malam di rumah ini dengan banyak makanan yang cukup mewah. Sebenarnya aku terkejut, karena aku mendapatkan makanan seenak ini secara cuma-cuma dan rumah ini sangatlah luas, bagus, dan bersih. Ditengah-tengah makan malamku, aku mengobrol dengan bang gondrong. Aku bercerita tentangku sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah, dimana aku memiliki nenek yang selalu memanjakanku sedari kecil. Bang Gondrong menyatakan bahwa dirinya yang mengelola rumah ini.

 

Lalu aku bertanya, “Bang, apa sih maksudnya Rumah berbagi?”

 

“Rumah berbagi, ini kamu sebagai salah satu penghuni disini bisa mendapatkan apa saja yang ada di rumah ini. Bahkan kamupun bisa memberikan sesuatu yang kamu punya kepada kami sebagai penghuni juga di rumah ini.” Jawabnya.

“Seperti berbagi makanan, pakaian, kebutuhan lainnya, dan sesuatu yang lainnya yang disuka.” Sambungnya.

“Segalanya kamu bisa dapatkan disini, termasuk pekerjaan. Semua orang disini sangat bahagia karena berbagi. Jelas, ketika kamu sudah tidak menyukai tempat ini lagi kapan pun kamu mau pergi silakan saja.” Sambungnya lagi.

Baca Juga:  Rumah

Saat dia mengatakan seperti itu, aku berfikir aku sangat menyukai tempat ini. Karena tempat ini terlalu sempurna untukku. Dia menceritakan tentang dirinya yang seorang koki hebat di salah satu restoran ternama di kota ini.

“Aku pulang…” terdengar suara seorang lelaki dari arah pintu depan. “Bang, ko bang gondrong jadi agak kurus?”

lelaki itu mengatakannya sambil melihatku yang sedang makan di ruang makan dengan kaca mata minus yang sangat tebal.

“Aku ada disini woy.” Kata Bang Gondrong sambil menunjuk dirinya di kursi sebelahku. “Oh iyah bang, abang ada disana. Terus dia siapa bang?” lelaki itu bertanya lagi.

“Aku sudah memberi tahumu melalui pesan pendek di handphone, aku memberi tahumu bahwa ada anggota baru dirumah ini. kamu tidak melihatnya?” jawab bang gondrong.

Lelaki itu langsung membuka handphonenya dan melihat pesan pendek dari Bang Gondrong.

 

“Eh iya bang baru kebuka pesan pendeknya, maklum mataku minus.” Kata lelaki berkaca mata tebal itu.

“Secepat mungkin mata minus yang kamu miliki akan sembuh.” Yakin bang gondrong. “Oh iya namamu siapa? Namaku Rai, panggil saja Rai.” Kata lelaki itu.

“Oh ya panggil saja aku Zao, nama asliku Reza Tarmin.” Jawabku kepada lelaki itu.

 

“Senang bertemu denganmu Zao, selamat datang di rumah berbagi ini dan kita akan tinggal satu rumah. Semoga kau betah dan jangan sungkan-sungkan, anggap saja aku ini saudaramu.” Katanya sambil tersenyum terlihat kerutan pada mata dibalik kacamata tebal miliknya.

Aku membalas dengan senyuman saja kepadanya. Terdengar suara langkah kaki dari tangga yang menuju lantai dua, ternyata ada penghuni lain yang berjalan dari lanti atas menuju kebawah. Tetapi lelaki yang sedang berjalan turun ditangga itu sambil memegang perutsebelah kirinya, kupikir dia sedang sakit perut. Sama seperti Rai yang menanyakan tentang kebaradaan diriku disini. Nama lelaki itu Raka, lelaki yang lumayan tampan dan terlihat lebih muda dariku.

“Ada apa dengan dirimu Raka? Apa ada yang salah?” Tanya bang gondrong seperti khawatir kepadanya.

“Aku hanya tidak masuk kerja beberapa hari ini ke kantor. Karena aku sakit perut, diare.” Jawabnya.

“Sebentar, aku ke toilet dulu.” Kata Raka sambil berlari-lari kecil dengan terburu-buru.

 

Setelah makan malam, aku diberi tahu oleh Bang Gondrong bahwa seluruh isi rumah ini milikku juga. Mulai dari mobil yang disimpan di garasi bawah rumah, makanan yang tersimpan di kulkas, kamar tidur yang luas dengan kasur yang sangat empuk, pakaian yang bagus, dan masih banyak lagi.

Aku bertanya kepada Bang Gondrong, “Bang, apakah 75 ribu rupiah untuk semua ini? Ini terlalu sempurna untuk hanya 75 ribu rupiah.”

“Itulah dia kenapa rumah ini disebut ‘Berbagi Kehidupan’. Benar-benar orang-orang tinggal disini berbagi semuanya satu sama lain.” Jawab Bang Gondrong.

Ketika sedang berjalan menyusuri lantai atas, Bang Gondrong menyuguhkan kamar tidur kepadaku. “Kamarmu sebelah sini. Kamu bisa bebas segimanapun kamu mau.”

“Wah…     kamarnya luas bang” terkejutnya aku ketika melihat kamarnya.Benar-benar diluar ekspektasiku, bahkan lebih bagus dari ekspektasiku.

“Mari kita masuk, akan aku tunjukan kepadamu sesuatu.” Ujar Bang Gondrong.

 

“Kamu tahu ini siapa Zao?” tanyanya kepadaku sembari menunjukan poster ukuran besar di dalam kamar.

“Alamak… ini aktor terkenal itukan? Terkenal di kota ini.”

 

“Betul, dia adalah Galih. Aktor tampan, kaya, dan banyak penggilanya.” Saut Bang Gondrong.

 

Memang Galih aktor yang tadi kulihat di majalah yang dijual oleh penjual kaki lima.

 

“Lalu Galih kemana sekarang? Menurut beritanya, di sedang tidak ada di kota ini belakangan ini. Bahkan ada yang bilang dia sedang sakit.” Tanyaku penasaran.

“Iya, Galih sedang beristirahat dulu sebentar di Kota Malang. Nanti juga dia kembali lagi kesini.” Jawabnya.

“Nih pakaian-pakaian miliknya, kamu bisa memakainya sesuka hati kamu.” Lanjutnya.

 

Benar-benar hari itu bahagia sekali karena semuanya mudah untuk didapatkan.

 

“Ya sudah saya tinggal dulu ya? Biarkan kamu beristirahat dulu dikamar, kamu pasti lelah seharian ini.” Kata Bang Gondrong.

“Iya bang, terimakasih ya bang.” sautku.

 

“Santai saja, ini sudah menjadi bagian rumahmu, hidupmu.” Balasnya.

 

Di kamar tidurku, aku berfikir bahwa semua orang disini sangat baik sekali kepadaku. Dan aku tidak menyangka bahwa ada tempat seperti ini, tempat dimana seperti surge dunia.

Pagi hari aku bangun dengan mendadak tiba-tiba perutku sakit, mules tidak karuan. Aku beranjak dari ranjang ke kamar mandi, dan ternyata aku diare. Aku bulak-balik masuk kamar mandi karena diareku ini. Aku menuju ke ruang tengah, ada Bang Gondrong dan Raka sedang duduk di sofa. Tetapi aku merasakan hal yang aneh, Raka sepertinya sudah sehat kembali, tidak seperti kemarin yang mulas-mulas karena diarenya.

“Zao, kamu sudah bangun?” Tanya Raka kepadaku sambil menghampiriku. “Iya aku sudah bangun” Jawabku.

“Oh iya ini, ada kontak nomor telepon kantor yang sedang mencari karyawan. Siapa tahu kamu bisa bekerja disana. Semoga beruntung, Zao.” Kata Raka kepadaku sembari memberikan sebuah kertas yang berisikan nomor telepon kantor.

“Ini juga laptop, boleh kamu pakai seperlunya kamu.” Lanjutnya sambil memberika laptop kepadaku.

“Wah… terimakasih ya!” aku membalasnya sangat kegirangan.

 

“Terimakasih sudah membantuku segalanya.” Saut Raka secara tiba-tiba saat berjalan menuju pintu keluar rumah

Aku heran, Raka terimakasih untuk apa?Padahal aku tidak melakukan dan memberikan apa-apa kepadanya’ dalam hatiku. Aku tidak menjawab apa kata Raka. Saat aku melihat nomor telepon dikertas tersebut, mataku tiba-tiba rabun. Semua nomor yang tertera di kertas itu kabur seperti mataku minus.

Baca Juga:  Peringati Pekan Tuli Internasional dengan Kampanyekan Bahasa Isyarat

“Pagi Zao! Bagaimana dengan tidurmu?” sahut Rai berjalan turun dari tangga dengan kegirangan. “Pagi juga Rai, aku tidur dengan baik, nyenyak.” jawabku kepadanya.

Aku melihat Rai sudah tidak memakai kacamata tebal lagi, apakah dia baik-baik saja tanpa kacamata itu? Kelihatannya juga seperti tidak minusnya. Bertanya-tanya dalam hatiku.

“Dimana kacamatamu? Kamu tidak memakainya lagi? Apakah sudah sembuh?” Tanyaku penasaran.

“Aku tidak membutuhkan kacamata apapun.” Jawabnya.

 

Aku keheranan dengan jawabannya seolah-olah kejadian dirinya mata minus itu tidak terjadi. Padahal jelas-jelas kemarin aku melihatnya dia kesulitan untuk membaca sebuah pesan pendek di handphonenya dan memakai kacamata tebal.

“Wah kamu terlihat keren kalo tidak memakai kacamata. Berangkat kuliah sana, nanti kamu telat.” Kata Bang Gondrong sambil mengeluskan kepala Rai.

“Iya bang, aku pergi dulu ya.” Pamit Rai kepadaku dan Bang Gondrong.

 

Lalu aku duduk di samping Bang gondrong, Bang Gondrong mengambil rokok dan menyalakan rokok itu lalu dihisapnya. Sontak aku kaget, kemarin dia sedang sakit batuk tetapi kenapa sekarang merokok? Apa sakit batuknya sudah sembuh?

Aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor dimana aku bekerja. Jadi tadi setelah mendapatkan nomor telepon itu, aku langsung meneleponnya dan bersyukur langsung diterima hari ini juga. Aku beranjak dari rumah, saat perjalanan menuju kantorku, tiba-tiba banyak paparazzi yang menghampiriku. Aku keheranan ada apa dengan diriku, apakah ada yang salah dengan diriku, apa karena aku memakai pakaiannya Galih si actor terkenal itu. Aku terus berjalan menuju kantor dimana tempatku bekerja, ada seseorang memanggilku,

“Zao!” teriak suara perempuan.

 

Saat kulihat ternyata temanku di entertainment kantorku sebelumnya. Namanya Yani, dia adalah teman dekatku sekaligus aku menyukainya sejak lama.

“Oh hai Yani! Apa kabar?” tanyaku kepada Yani.

 

“Aku baik Zao, kamu bagaimana? Wah kelihatannya sekarang jauh lebih baik ya.” Seru Yani. “Kabarku baik yan.” Jawabku.

“Sekarang tinggal dimana Zao?” Tanya Yani.

 

“Aku tinggal di sebuah rumah namya ‘Berbagi Kehidupan’ jawabku. “Terdengar lucu ya nama rumahnya.” Kata Yani.

“Nanti besok malam apakah kamu ada acara? Kalau tidak ada, aku ingin mengajak kamu makan malam diluar.” Tanyaku padanya dengan spontan.

“Boleh, nanti aku kabari kalau bisa ya.” Jawab Yani.

 

Aku balas hanya dengan senyuman. Setelah itu, aku mealnjutkan perjalananku ke kantor. Sesampainya di kantor, aku langsung mengerjakan pekerjaanku diposisi memegang komputer. Saat aku sedang mengerjakan tugasku, penglihatanku rabun. Semua huruf dan angka goyang dan blur. Aku juga merasa agak pusing di kepala dan aku mulai batuk-batuk, mungkin aku akan sakit nanti. Lalu aku mengucek-ngucek mataku berusaha untuk tetap melihat dengan jelas. Tetapi rasanya mataku mengalami minus, apakah karena sudah lama tidak pernah melakukan sesuatu didepan komputer, atau memang mataku yang bermasalah.

Jam menunjukan pukul 19.00 WIB, jam kerjaku sampai pada jam 7 malam. Aku bergegas pulang, karena semakin malam penglihatanku semakin buram dan semakin rabun.

“Aku pulang…” kataku saat membukakan pintu rumah.

 

Raka datang menyambut kepulanganku dan menanyakan kabar pekerjaanku hari ini bagaimana. Aku menceritakan bahwa aku sangat bahagia hari ini, aku menceritakan hal-hal yang membuatku bahagia.

Lalu datang Bang Gondrong, “Hei Zao, kamu sudah datang? Mari sini aku akan memperkenalkan teman baru untukmu.”

“Siapa bang?” tanyaku kepada Bang Gondrong.

 

“Nanti kamu juga tahu setelah kamu melihatnya.” Jawab Bang Gondrong.

 

Aku dan Raka mengikuti Bang Gondrong ke ruang tengah. Saat aku melihat orang yang akan diperkenalkan itu, awalnya aku melihat tidak jelas karena mataku rabun. Tetapi setelah kukucek- kucek mataku untuk berusaha melihat dengan jelas, ternyata teman baru yang dimaksud adalah Galih sang aktor terkenal dan idaman setiap wanita di kota ini. Aku dan dia berkenalan satu sama lain, wajah yang tampan dan manis itu memang sangat cocok untuknya. Saat ditengah-tengah perbincanganku dengan Galih, galih menanyakan tentang pakaian yang kupakai. Aku bilang bahwa aku meminjam semua ini darimu karena disini rumah ‘Berbagi Kehidupan’. Dan aku bilang kepadanya, aku juga ingin sepert dia suatu saat nanti. Dia hanya tersenyum dan mengatakan, “Pakaiannya sangat cocok denganmu Zao. Kamu boleh memakainya kapanpun kamu mau.” Wah benar-benar baik sekali Galih ini, sudah tampan, mapan, berbakat, digilai oleh para wanita, dan masih banyak lagi. “Aku ada hadiah untukmu Zao.” Kata Galih kepadaku. Aku hanya bengong keheranan, hadiah apa yang akan Galih berikan kepadaku. “Jam tangan ini untukmu, ini adalah salah satu barang kesukaanku. Tetapi aku tidak apa diberikan kepadamu.” Kata Galih. Aku mengambil jam tangan itu dan melihat merk jam tangan itu, waw jam tangan ini mahal sekali setauku dan harganya fantastis. Terlalu sempurna aku mendapatkannya dan memakainya.

“Waw… terimakasih Galih, kau sangat baik kepadaku.” Ucapku kepada Galih.

 

Aku langsung pakai jam tangan itu, tetapi saat aku memeakai jam tangan dari Galih aku merasakan sakit dada. Rasanya sesak dan sakit di tenggorokan. Mungkin aku akan sakit demam malam ini atau besok fikirku.

Hari Sabtu malam minggu, sudah ada janji dengan Yani untuk makan malam diluar. Aku bersiap siap dengan memakai pakaian yang terbaik karena ini waktu pertama kali aku kencan dengan Yani. Sekarang tinggal berangkat dan aku akan pamit terlebih dahulu dengan teman-teman dirumah ini. Teman-temanku sedang berkumpul diruang tengah, ini tepat sekali untuk aku berpamit kepada mereka.

“Semuanya, aku akan keluar sampai malam nanti. Jadi untuk makan malam jangan sediakan untuk aku ya.” Kataku kepada mereka.

Baca Juga:  Mewakili Rasa

“Kamu akan makan malan dengan Yani?” celetuk Bang Gondrong.

 

Aku bingung karena bagaimana dia tau. “Bagaimana kau tau bang?” tanyaku kepada Bang Gondrong.

“Aku akan rekomendasi untuk pesta BBQ.” celetuk Rai. “Makan daging sapi lebih enak.” balas Galih.

 

“Disini ada stok daging yang cukup untuk enam orang.” tanggap Raka.

 

Dari percakapan mereka aku mengira mereka menguntitku hingga tau nama perempuan yang akan aku kencani. Lalu tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Bang Gondrong, Raka, dan Rai bergegas ke pintu depan rumah seolah-olah akan menyambut seseorang. Aku ikuti mereka karena obrolan tadi belum selesai. Yang datang adalah Yani. Aku tak menyangka yang datang Yani, aku bingung kenapa Yani bisa tau rumah ini.

“Kamu bagaimana tau tempat ini dan tau ada pesta BBQ?” tanyaku penasaran kepada Yani.

 

“Aku tau kamu tinggal disini, dan mereka memberi tahu alamatnya. Mereka juga memberi tahu bahwa kamu akan ada pesta BBQ di rumah ini. Lalu mereka mengundangku.” Jawab Yani.

Aku hanya keheranan, bagaimana mereka tahu nomor ponselnya.

 

“Mari sini Yani akan kutunjukan tempat kita makan-makan.” kata Bang Gondrong kepada Yani. “Aku tidak percaya ini! Ada Galih!” sontak Yani.

Aku baru ingat, Yani sangat menyukai Galih karena ketampanannya. Yani meminta salaman dan tanda tangan, dia sangat antusias karena ada Galih.

Bang Gondrong menyiapkan segala makanannya karena dia koki yang handal. Yani dikerumuni oleh Raka, Rai dan Galih. Aku? Aku hanya membantu Bang Gondrong memasak dan menyiapkan makanan karena aku kesal. Yang seharusnya malam ini adalah malam kencanku tetapi dirusak oleh penghuni rumah ini.

“Bang, kenapa bias tau nomor ponsel Yani?” tanyaku kepada Bang Gondrong.

 

“Aku menemukan nomornya di panggilan trakhir ponselmu.” Jawab Bang Gondrong. Aku semakin penasaran apa yang terjadi sebenarnya,

“Bang, kau tahukan spesialnya restoran? kau kerja disana juga? Tapi kenapa kau malah membela mereka untuk pesta BBQ bersama?”

“Lihatlah mereka, mereka bahagia, mereka bersenang-senang. Kita harus berbagi kebahagiaan kita dan apapun kita bagikan.” Jawabnya.

“Oke untuk bermain boleh berbagi, tetapi aku tidak mau membagikan dia kepada oranglain.” Tegasku.

 

“Aturan disini adalah berbagi semuanya, segalanya. Dan kamu juga masuk dalam aturan itu.” tegas Bang Gondrong kepadaku sampai aku bingung harus menjawab apa.

Sudah larut malam kami berenam masih berada di pesta BBQ. Aku melihat Yani sudah kekenyangan dan mengantuk. Yani juga ingin segera pulang. Tetapi mereka mencegah Yani pulang dan menyuruhnya untuk tinngal di rumah ini. Aku sontak tidak menerima itu semua, kesabaranku telah habis. Aku menarik tangan Yani dan menghempaskan tangan Bang Gondrong yang sedang menyentuh pundak Yani. Aku langsung mengantarkan Yani pulang sampai rumahnya.

Setelah mengantarkan Yani kerumah, aku langsung menemui Bang Gondrong di rumah.

Kebetulan sekali, ternyata mereka semua berkumpul di ruang tengah dan sedang duduk. “Kalian semua aneh!” ucapku seraya ketus kepada mereka.

“Kamu sendiri yang menyetujui peraturan dirumah ini sebelum kamu tinggal disini.” Balas Bang Gondrong.

“Iya betul, tapi kalian sangat berlebihan.” Sautku.

 

“Aku ingin berkencan dengannya tetapi kalian malah mengacaukannya.” Lanjutku. “Kami tidak mengacaukan, tapi kami juga ingin ikut bahagia denganmu.” Ucap Raka. “Bahkan kami juga berbagi kebahagiaan kami kepadamu.” Ucap Rai.

“Oke, aku akan keluar dari rumah ini, dan tidak pernah kembali lagi.” Kataku kepada mereka dengan penuh kesal.

“Oh iya ini jam tanganmu, aku sudah tidak membutuhkannya lagi.” Kataku kepada Galih. “Tidak, itu untukmu.” Jawab Galih.

“Tidak!” tegasku kepada Galih.

 

Aku segera membereskan barang-barangku dan aku pamit kepada mereka untuk yang terakhir kalinya.

“Aku akan pergi dari sini sekarang.” Ucapku kepada mereka.

 

“Tenang, kita tidak akan memberhentikanmu. Silakan saja kau tinggalkan rumah ini. Dan jangan menyesal.” Tegas Bang Gondrong.

“Karena kamu sekarang sudah tidak mau lagi berbagi dengan kami.” Kata Raka kepadaku.

 

“Oke aku pergi.” Ucapku yang terakhir untuk mereka.

 

Aku pergi keluar rumah itu untuk selama-lamanya dan entah mau kemana aku harus tinggal. Batuk, diare, mata minus masih aku rasakan saat aku menyusuri jalan. Aku tidak ada tujuan, aku harus kemana. Sakit yang diderita olehku semakin parah, terasa semakin menjauhi rumah itu semakin menjadi-jadi sakitnya. Lama-lama aku susah untuk berjalan, entah kenapa badan semakin mencoba untuk berjalan semakin lemas, semakin tidak berdaya. Aku melihat kota indah Jogjakarta, tetapi dalam sekejap penglihatan yang indah itu langsung kabur. Batukku yang sangat sakit di tenggorokan, dan mules-mules perutku ini yang tiada henti. Tiba-tiba aku benar-benar tidak kuat untuk berjalan dan menahan rasa sakit ini semua. Ditambah rasa sesak di dadaku semakin menjadi- jadi. Aku batuk dan tenggorokanku sakit sekali sampai keluar darah banyak.

Tolong! Aku benar-benar merasakan sakit yang amat sakit hingga aku tak bias berteriak minta tolong, dan aku sekarang tergelepak di jalan.

Tunggu, itu Galih di majalah. Dan tulisannya “Galih telah berhasil terapi penanganan cancer hati”. Aku sedang sekarat sekarang rasanya akan mati. Sesak di dada, susah bernafas, dan sudah tidak bisa lagi berteriak.

Aku baru sadar bahwa bukan kebahagiaan saja yang dibagikan oleh mereka kepadaku, tetapi penderitaan mereka juga. Karena aturannya ‘berbagi segalanya satu sama lain’, maka dari itu rumah tersebut bernama ‘Berbagi Kehidupan’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *