Menelisik Desa Eksotis Ragawacana, Inilah Situs Arkeolog Cagar Budaya dan Sejarahnya!

Kuninganglobal.com Sabtu, 8 Juni 2024 Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) STKIP Muhammdaiyah Kuningan melakukan observasi untuk penerapan dari Mata Kuliah Folklore terkait Toponimi yang tertuju pada Desa Ragawacana kecamatan Kramatmulya untuk menelusuri sejarah atau asal muasal berdirinya Desa Ragawacana.

Cantika Adiprameswari dan Resi Sri Arini menelusuri tentang bagaimana asal muasal Desa Ragawacana. Diawal penelurusan mengenal nama desa Ragawacana.

Ragawacana berasal dari dua kata, yaitu “Raga dan Wanca”. Raga berarti badan, tubuh atau awak dalam Bahasa Sunda, wacana mengandung arti cerita atau kabar carita dalam Bahasa Sunda, pengertian tersebut diambil dari suatu cerita atau legenda tentang berdirinya Desa Ragawacana.

Pada zaman dahulu namanya bukan Desa Ragawacana, melainkan suatu perkampungan yang mempunyai nama “Pidara” atau “Bale Are” yang belum mempunyai struktur pemerintahan dan masyarakatnya masih memeluk agama Hindu.

Pada bulan maulud kira-kira tahun 1500 M, lewatlah satu rombongan yang dipimpin oleh Ki Gedeng Cigugur melewati perkampungan tersebut dengan menaiki kereta berkuda dengan tujuan ke Cirebon yang bermaksud untuk mengikuti suatu acara yang diselenggarakan oleh para wali di Gunung Jati karena suatu hal (tidak disebutkan).

Kereta kuda yang di tumpangi oleh Ki Gedeng Cigugur mengalami kecelakaan dan mengakibatkan Ki Gedeng gugur terjatuh hingga wafat dan dimakamkan di perkampungan (Bale Are), kemudian salah seorang pengawal rombongan tersebut melanjutkan perjalanannya menuju Cirebon untuk mengabarkan berita duka kepada Sunan Gunung Jati yang pada saat itu sedang mengadakan sidang.

Mendengar kabar tersebut Sunan Gunung Jati memerintahkan kepada utusan itu untuk mengganti nama perkampungan Bale Are menjadi Ragawacana dan mengumumkannya dalam persidangan itu, pemberian nama Ragawacana karena jasad atau raganya Ki Gedeng Cigugur sudah dikuburkan, sedangkan berita atau ceritanya sampai ke persidangan.

Baca Juga:  KPK Tetapkan Mensos Juliari Batubara Jadi Tersangka Korupsi Bansos Covid-19

Tidak lama setelah pergantian nama dari Bale Are menjadi Ragawacana, masih di tahun itu (± 1500 M) datanglah seorang utusan dari Cirebon ke Ragawancana dengan misi atau mambawa tugas untuk menyebarkan Agama Islam di tempat itu.

Utusan tersebut merupakan keturunan Ki Gedeng Ragawacana kemudian mengatur sistem wilayahnya yang meliputi Ragawacana, Pajambon, Gandasoli, Cibentang dan Gunungkeling. Namun karena tuntutan dan, Kelima lingkungan wilayah tersebut telah terpisah dan menjadi desa sendiri-sendiri.

Ki Gedeng Ragawacana mempunyai Tujuh orang anak yang secara turun temurun meneruskan kepemimpinan di wilayah Ragawacana tersebut, sehingga sampai sekarang tujuh keturunan Ki Gedeng Ragawancana tersebut disebut “Luluhur Desa Ragawacana” ketujuh orang itu adalah :

1. Raden Mustopa
2. Tuan Tengah
3. Tuan Sadamaya
4. Niti Putih
5. Niti Sara
6. Wana Guru
7. Ki Gedeng Panaragan

Mereka menerima tampuk kepemimpinan hingga akhir tahun 1700 M, karena adanya perubahan sistem pemerintahan yaitu Kademangan hingga akhir tahun 1800 M. Mulai tahun 1801 M sampai sekarang, pemerintah di wilayah Ragawacana dikepalai oleh seorang “Kuwu”.

Berikut nama-nama yang pernah menjabat sebagai Kuwu di Desa Ragawacana, dan susunan terakhir beliau masih menjabat sebagai Kuwu Ragawacana.

1. Kuwu Sukmin 1800-1840
2. Kuwu Rundeng 1840-1858
3. Kuwu Juda Diwangsa 1858-1861
4. Kuwu Anggadikrama 1861-1862
5. Kuwu Natakrama 1862-1881
6. Kuwu Selat Djajasasmita 1881-1917
7. Kuwu Sastra Santana 1917-1919
8. Kuwu DjajaSasmita 1919-1920
9. Kuwu Sastra Santana 1920-1923
10. Kuwu Prawira Sasmita 1923-1928
11. Kuwu Singa Wilastra 1928-1928
12. Kuwu Amir 1928-1931
13. Kuwu Wirya Suminta 1931-1933
14. Kuwu Karnasasmita 1933-1946
15. Kuwu Mad Saleh 1946-1948
16. Kuwu Wirya Sasmita 1948-1949
17. Kuwu Sumarta Disastra 1949-1967
18. Kuwu Widjaja Prawira 1967-1973
19. Kumu M. Rachmanudin 1973-1989
20. Kuwu Dedi Djuhana 1989-1998
21. Kuwu Udju Juhaeni 1998-2007
22. Kuwu Sutini 2007-2019

Baca Juga:  Mahasiswa KKN MAs Desa Suak Gual Raih Sertifikat Apresiasi Penerapan AIK Terbaik!

SEJARAH SINGKAT SITUS BALONG KAGUNGAN

Balong Kramat Ragawacna atau disebut juga Balong Kagungan merupakan satu dari sekian Bidang Kramat yang ada di Kabupaten Kuningan, mengenai sejarah atau riwayat adanya balong kagungan tersebut tidak ada yang tahu persis karena minimya informasi yang diperoleh ada sedikit yang cukup mengarah kepada kebenaran tentang keberadaan Balong Kramat/Balong Kagungan.

Riwayat keberadaan Balong Kagungan tidak bisa dipisahkan dari riwayat terbentuknya atau keberadaan kolam-kolam kramat yanga ada di Kabupaten Kuningan terutama Kolam Kramat yang didalamnya hidup ikan-ikan Dewa karena menurut cerita/legenda bahwa kolam-kolam itu dibuat oleh satu orang yang mempunyai ilmu tinggi dan dalam waktu yang bersamaan (satu malam)

kolam-kolam kramat itu adalah:
1. Balong Darmaloka yang berada di Desa Darma Kec. Darma
2. Balong Cigugur yang berada di Desa Cigugur Kec. Cigugur
3. Balong Kagungan yang berada di Desa Ragawacana Kec. Kramatmulya
4. Balong Cibulan yang berada di Desa Maniskidul Kec. Jalaksana
5. Balong Pasawahan yang berada di Desa Pasawahan Kec. Pasawahan
6. Balong Linggarjati yang berada di Desa Linggarjati Kec. Cilimus
7. Balong Cibuntu yang berada di Desa Cibuntu Kec. Mandirancan.

Di ketujuh Balong tersebut hidup sejenis ikan mas yang warnanya kuning keputih-putihan disebut juga oleh masyarakat adalah Ikan Dewa, karena ikan-ikan tersebut terbentuk/tercipta dari tulang belulang (karena ikan mas sisa makan dari si pembuat balong tersebut yaitu Sunan Geseng atau Syeh Rama Hal Irongan, yang merasa lelah setelah membuat balong dan melemparkan kerangka ikan ke balong tersebut dan dengan izin Allah kerangka ikan kembali hidup layaknya ikan-ikan biasa yang sekarang lebih dikenal dengan Ikan Dewa.

Baca Juga:  HIMA PGSD STKIP Muhammadiyah Kuningan Adakan MAKRAB yang Berbeda di Tahun 2023

Situs Balong Kagungan terletak di Desa Ragawacana Kec. Kramatmulya, situs tersebut terletak di sebelah Barat perkampungan penduduk dengan luas ± 4.550 M³ berada di bawah pohon-pohon yang besar dan semak-semak, disampingnya terdapat kolam ikan yang ikannnya dikeramatkan (Ikan Dewa) karena adanya mata air.

Pada Situs Balong Kagungan pernah ada bangunan kecil dari kayu yang terukir, sebagian masih ada di samping Masjid Desa Ragawacana.

Situs Balong Kagungan hasil penelitian Arkeologi benda cagar budaya yang ada di bawah pohon yang besar adalah peninggalan dari masa tradisi Megalitikum. masa pra sejarah berupa :
1. Batu Meja (Dolmen) yang mengarah Timur Barat dengan ukuran 2 x 1 x 40 cm
2. Batu Tegak (Menhir) terletak di sebelah batu meja
3. Batu Dakon (Batu berlubang lebih dari satu) berdekatan dengan batu meja
4. Batu Tilu nerada di sebelah barat batu meja
5. Pragmen area dari terakota (tanah llat)

Situs Balong Kagungan kesemuanya merupakan benda cagar budaya yang dilindungi dan dipelihara.

Penulis: Cantika dan Resi
Editor: Deliya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *