Produktif vs Sibuk, Anda yang Mana?

Perbedaan Sibuk dan Produktif, Begini Cara Menjadi Produktif

Kuninganglobal Berbicara mengenai produktivitas artinya berbicara mengenai aktivitas berkualitas, pekerjaan yang menghasilkan suatu hasil positif dalam bentuk apapun. lalu apa bedanya dengan sibuk? sibuk itu ada yang produktif, ada juga yang tidak produktif, karena menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) definisi dari sibuk itu sendiri adalah banyak yang dikerjakan, giat dan rajin mengerjakan sesuatu atau penuh dengan kegiatan. sedangkan produktif menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah bersifat atau mampu menghasilkan dalam jumlah besar, mendatangkan, memberi hasil, manfaat dan sebagainya. Artinya bahwa sibuk dan produktif itu berjalan seiringan.

Contoh: Orang yang sibuk dengan menulis atau membaca buku adalah sibuk produktif, karena ada buah dari kesibukannya yaitu berupa naskah cerpen atau bahkan karya ilmiah. Berbeda jikalau sibuknya dengan mengikuti berbagai macam kegiatan dimana-mana, namun karena kegiatannya terlampau padat, sehingga untuk mengikuti rapat saja  dia berbenturan dengan kegiatan yang lainnya, alhasil membuat dia tampak sangat sibuk, padahal sibuknya tidak produktif. Kecuali jikalau dia hanya fokus dalam satu atau dua bidang kegiatan yang dimana dia mampu fokus dan memberikan masukan untuk kemajuan dan kesuksesan kegiatan tersebut, itu baru yang dinamakan sibuk produktif.

Lalu apa yang membuat kita sulit untuk produktif?

MALAS

Hasil dari analisis diri saya pribadi, ternyata alasan saya tidak bisa mengikuti jadwal-jadwal yang dulu saya buat sendiri yaitu karena saya malas.

Penyakit malas ini ternyata bukan penyakit main-main, penyakit malas ini benar-benar membuat kita rugi dan membuat kita menjadi tidak produktif. namun sebenarnya penyakit ini bisa dihindari ataupun diobati, yaitu dengan cara TIDAK MALAS.

Pernah suatu ketika saya hendak mengerjakan tugas atau proyek walaupun deadline masih lumayan lama, karena sebenarnya saya adalah tipe orang yang selalu ingin mengerjakan tugas atau apapun itu di awal waktu, agar cepat selesai dan tidak tertumpuk. Namun seketika penyakit saya kambuh, saya sudah menghidupkan laptop tapi saya hanya rebahan di atas kasur. Scroll ponsel tanpa sadar saya sudah menghabiskan waktu berjam-jam dengan sia-sia. Tugas tidak selesai, yang ada saya malah pusing karena terlalu lama melihat layar ponsel.

Baca Juga:  Rumah yang Istimewa

Maka selanjutnya hal yang perlu kita ketahui adalah output dan outcome

Output adalah hasil dari apa yang kita kerjakan.

Outcome itu manfaat yang didapatkan dari apa yang kita lakukan.

Jikalau kita tidak mengetahui apa perbedanya, bisa jadi kita akan berfokus dan sibuk pada hal yang salah, seperti jam kerja yang panjang, namun manfaatnya tidak terasa dan tidak menyelesaikan masalah.

Output itu biasanya berfokus kepada “apa” dan “kapan”. Misalnya:

  1. Apa yang harus saya kerjakan?
  2. Kapan saya harus menyelesaikannya?

Sementara outcome itu berfokus pada “kenapa”. Misalnya:

  1. Kenapa saya harus melakukan ini?
  2. Apa manfaatnya untuk saya jika saya melakukan ini?

Saya kasih contoh yang menurut saya bagus tentang keselarasan antara output dan outcome.

Fitur Super Partner di GoFood.

Ada beberapa masalah yang cukup penting bagi customer dan tukang ojek:

Customer   : Bagaimana agar waktu tunggu makanan saya tidak terlalu lama? Bagaimana saya tahu makanan yang saya pesan masih tersedia?

Tukang ojek : Bagaimana saya bisa menghemat waktu (tidak membuang waktu untuk menunggu/mengantri makanan), sehingga saya bisa mengambil order lebih banyak.

Dari masalah tersebut, outcome-nya jelas:

Customer: makanan sampai lebih cepat dan dijamin ketersediaannya (setelah dikonfirmasi).

Tukang ojek: tidak banyak waktu idle (waktu tunggu).

Setelah dilihat, permasalahannya adalah bagaimana mempersingkat atau menghilangkan waktu tunggu pesanan tukang ojek di restoran, yang secara otomatis akan mempersingkat waktu antar makanan ke customer.

Solusinya (output) adalah melalui pembuatan fitur Super Partner itu dalam aplikasi GoFood.

Kalau kita hanya memikirkan output (tanpa dipandu dengan outcome) kita bisa jadi sibuk tapi tidak produktif.

Dengan berfokus pada outcome, kita bisa membuat strategi.

Baca Juga:  Wakil Rakyat Harus Jadi Teladan Bagi Rakyat 

Contohnya :

Seorang mahasiswa yang ingin lulus cum laude, dia bisa menghitung berapa SKS minimal dia harus dapat nilai A, berapa SKS boleh nilai B, dan seterusnya. Selanjutnya, dia jadi bisa tahu mata kuliah yang jadi prioritas yang mana, tugas dan ujian mana yang bobotnya besar, da sebagainya.

Seorang karyawan yang ingin karirnya sukses harus tahu mana pekerjaan yang prioritasnya tinggi dan value-nya besar untuk perusahaan. Dengan demikian, dia tidak hanya terpaku kepada rutinitas.

Sejatinya sibuk dan produktif itu berjalan seiringan, namun semakin kita sibuk maka seharusnya semakin banyak value yang kita dapat, sebaliknya jika kita terlampau sibuk tapi tidak dibarengi dengan manfaat dan hasil yang sepadan, maka itu termasuk kedalam sibuk namun tidak produktik. Maka kita harus Cerdas dalam beramal, karena kerja keras saja tidak cukup, harus dibarengi dengan kerja cerdas dan bahkan kerja ikhlas. Keep spirit and do the best whereever you are!

Penulis: Muhamad Nur’alim, Pengurus HIMA PGSD STKIP Muhammadiyah Kuningan dan Aktif di HMI Cabang Kuningan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *